KAJIAN PSIKOLOGI "Pentingnya Kecerdasan Emosional Dalam Kehidupan Sehari-hari"

 


Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Satu studi menemukan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting. Dalam buku Daniel Goleman "Kecerdasan Emosional" dijelaskan bahwa kecerdasan emosional bertanggung jawab atas keberhasilan sebesar 80% dan 20% ditentukan oleh IQ. 

Dalam dunia yang semakin kompleks dan cepat berubah, kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain dan mengelola emosi menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan pribadi dan profesional.

Sebuah kisah saat-saat terakhir Gary dan Mary Jane Chauncey, pasangan yang begitu menyayangi putri mereka, Andrea yang berumur sebelas tahun. Andrea terpaksa menggunakan kursi roda karena menderita cerebral palsy. Keluarga ini merupakan penumpang kereta Amtrak yang tercebur ke sungai setelah sebuah tongkang menghantam dan mengguncang jembatan rel kereta api di sungai kecil yang berada di kawasan pedesaan Louisiana. Karena memikirkan keselamatan putri mereka, pasangan tersebut berusaha menolong Andrea ketika air menerobos masuk ke dalam kereta yang sedang tenggelam. Usaha mereka berhasil untuk mengangsurkan Andrea melalui sebuah jendela ke regu penyelamat. Namun, ketika gerbong tersebut semakin tenggelam di bawah air, pasangan tersebut telah lenyap. (Daniel Goleman, 1995)

Jika dilihat dari sudut pandang orang tua yang membuat keputusan besar pada saat-saat kritis, tindakan tersebut tak bisa lain kecuali Cinta. Kisah tersebut sebagai pemahaman tentang makna dan potensi emosi dalam tindakan teladan kepahlawanan orang tua, hal ini menegaskan pentingnya cinta tanpa syarat. Setiap emosi yang kita alami dalam kehidupan manusia menunjukkan bahwa perasaan terdalam, nafsu, dan keinginan kita merupakan pedoman yang signifikan. Manusia berhutang banyak kepada kekuatan emosi, karena dengan adanya emosi manusia dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi.

Kemudian kita beralih ke kisah selanjutnya. Jason H, siswa kelas dua yang nilainya selalu A di SMA Coral Springs Florida, bercita-cita masuk fakultas kedokteran, ia memimpikan Harvard. Tetapi, David Pologruto, guru fisikanya memberinya nilai 80 pada tes. Karena merasa bahwa nilai yang hanya B itu akan menghalangi cita-citanya, Jason membawa sebilah pisau dapur ke sekolah dan dalam suatu pertengkaran dengan Pologruto di laboratorium fisika, ia menusuk gurunya di tulang selangka sebelum dapat ditangkap dengan susah payah. Hakim memutuskan bahwa Jason tidak bersalah karena dianggap gila untuk sementara saat peristiwa penyerangan terjadi. Sebuah panel yang terdiri dari empat psikolog dan psikiater bersaksi bahwa Jason gila selama perkelahian itu. Jason mengaku berencana untuk bunuh diri akibat nilai tes yang buruk dan mencoba menemui gurunya, Pologruto untuk mengungkapkan niat tersebut. Namun, Pologruto menyatakan hal yang berbeda, bahwa Jason memang berusaha membunuhnya dengan pisau karena kemarahan atas nilai yang didapatnya.

Setelah pindah ke sekolah swasta, Jason lulus dua tahun kemudian sebagai juara kelas dengan nilai rata-rata 4,614, jauh di atas A+. Meskipun Jason lulus dengan nilai terbaik, guru fisikanya yang lama, David pologruto mengeluh bahwa Jason tak pernah minta maaf atau mau bertanggung jawab atas serangan tersebut. 

Nah masalahnya adalah, bagaimana mungkin seseorang yang jelas-jelas cerdas melakukan sesuatu yang sedemikian tak rasional, sesuatu yang betul-betul bodoh? jawabannya: kecerdasan akademis sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional, yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok ke dalam nafsu tak terkendali dan impuls meledak-ledak, orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka.

Teori kecerdasan emosional (EQ) itu memiliki dua model utama: model kemampuan dan model campuran. Model kemampuan, yang berfokus pada emosi sebagai kemampuan kognitif, menekankan pada pemrosesan informasi emosional untuk membimbing pikiran dan perilaku, dengan alat ukur utama MSCEIT. Sementara itu, model campuran menggabungkan kemampuan emosional dengan sifat kepribadian dan kompetensi sosial, mencakup model Goleman dengan empat kompetensi utama dan model Bar-On dengan lima aspek utama, serta menggunakan alat ukur EQ-i dan ESCI. Kedua model ini memberikan kerangka kerja yang berbeda namun saling melengkapi untuk memahami dan mengukur kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional (EQ) terdiri dari lima komponen utama yang saling berkaitan: kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Kesadaran diri melibatkan pengenalan dan refleksi emosi diri serta kepercayaan diri. Pengendalian diri mencakup regulasi emosi, manajemen stres, dan ketahanan emosional. Motivasi diri melibatkan tujuan pribadi, optimisme, dan komitmen. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain, responsif terhadap kebutuhan mereka, dan membangun hubungan yang kuat. Keterampilan sosial meliputi komunikasi efektif, kerja tim, dan resolusi konflik. Kelima komponen ini sangat penting dalam interaksi sosial dan kesejahteraan individu.

Kecerdasan emosional (EQ) memiliki berbagai manfaat yang signifikan, termasuk peningkatan hubungan interpersonal melalui komunikasi yang lebih baik dan pengurangan konflik, serta dampak positif terhadap kesehatan mental dengan mengurangi stres dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, EQ yang tinggi berhubungan dengan keberhasilan karier, seperti kemampuan kepemimpinan yang lebih baik dan peningkatan produktivitas kerja. Namun, terdapat kendala dalam pengembangan kecerdasan emosional, yang dapat berasal dari faktor internal, seperti kurangnya kesadaran diri dan keterampilan pengelolaan emosi, serta faktor eksternal, seperti lingkungan sosial atau budaya yang tidak mendukung.


Penulis: St. Nur Aliah

Penerbit: Ahmad Rafli Hamdani

Belum ada Komentar untuk "KAJIAN PSIKOLOGI "Pentingnya Kecerdasan Emosional Dalam Kehidupan Sehari-hari""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel