Tabligh Akbar HIPERMAWA KOPERTI PNUP Periode 2024-2025



HIPERMAWA KOPERTI PNUP sukses menggelar acara Tabligh Akbar dan Buka Puasa Bersama dengan tema "Gerakan Mahasiswa dalam Perspektif Islam" pada hari Minggu, 16 Maret 2025 di sekretariat HIPERMAWA KOPERTI PNUP. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah, memperkuat solidaritas antar sesama karena di dalam islam konsep jamaah lebih diutamakan dari pada konsep munfarid serta ajang untuk merefleksikan kembali kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan ini dihadiri oleh alumni dan berbagai lembaga kedaerahan diantaranya, PMB "ARUMPONE" PN-UP, HPMM KOM. PNUP, IPMIL RAYA PNUP, KMS PNUP, IMS PNUP dan lembaga internal kampus PNUP. 

Ceramah kali ini akan disampaikan oleh Kakanda A. Achmad Fauzi Rafsanjani beliau seorang aktifis yang banyak juga aktif dalam dunia pergerakan ketika menjadi mahasiswa dan kelindang organisasinya itu aktif di organisasi islam sehingga pada kegiatan ini sangat baik sekali menjadi pengantar untuk memahami gerakan mahasiswa dalam perspektif islam karena beliau mengalami, mempelajari dan menghayati dalam kehidupan sehari-harinya. 

Opening speech dari beliau ingin mengklarifikasi bahwa ia bukan seorang penceramah, ia hanya seorang komedian yang meskipun tak bisa menyaingi lawakan dari para pejabat-pejabat negara atas kebijakan-kebijakannya. Beliau mengatakan akhir-akhir ini dirinya ingin menjadi seorang yang pendiam tapi lagi-lagi tak bisa menyaingi mereka yang diam-diam merevisi dan ingin mengesahkan RUU TNI di hotel berbintang. 

Penyampaian ceramah beliau dimulai dengan pembahasan dalam Q.S. Ali Imran ayat 164 mengatakan :

 لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ 

yang artinya : Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah.

Secara sepintas kita akan memahami bahwa ayat ini mengatakan ada satu kaum atau kelompok kemudian diantaranya dipilih menjadi seorang Rasul. Namun ketika kita ingin lebih detail lagi Allah SWT tidak menggunakan kata kaum atau kabilah tetapi menggunakan kata anfus yang di dalam bahasa arab satu akar kata dengan nafs "jiwa" sehingga ketika diterjemahkan kembali bahwa Allah SWT mengutus seorang Rasul dari jiwa kita. Ini menandakan bahwa antara manusia dengan Rasul tidak memiliki keterpisahan. Masih di ayat yang sama, bahwa kata وَيُزَكِّيْهِمْ lebih dahulu daripada وَيُعَلِّمُهُمُ ini menandakan bahwa Rasul diutus untuk mensucikan jiwa barulah kemudian diajarkan alkitab. Refleksi ayat tersebut bahwa sebelum mendapatkan yang namanya ilmu pengetahuan, proses bermajlis ilmu kita dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu karena pengetahuan itu sifatnya suci, karena ia suci maka ia hanya bisa ditangkap oleh sesuatu yang suci pula, kalau kita tidak suci secara batin setidaknya kita suci secara fikih secara syariat. 

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk dan penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk itu. Pertanyaannya, seberapa sering kita menjadikan Al-Qur'an sebagai rujukan gerakan kita. Di dalam Al-Qur'an berisi petunjuk antara yang hak dan bathil artinya Al-Qur'an berbicara tentang keadilan. Ketika di tarik dalam gerakan mahasiswa bukankah gerakan yang selama ini diperjuangkan adalah gerakan-gerakan keadilan. Maka pertanyaannya seberapa sering kita menggunakan Al-Qur'an sebagai rujukan. Al-Qur'an tidak menjelaskan bagaimana metodologi keadilan itu ditegakkan karena Al-Qur'an memahami bahwa masyarakat ini dinamis. Karena ia dinamis maka model kelembagaan dan pranata sosialnya mesti juga dinamis. 

Sama halnya dengan ayat yang pertama kali turun yaitu Q.S. Al Alaq 1-5 اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Kata Iqra dalam tafsir al misbah itu dari kata yang artinya menghimpun lalu berkembang menjadi bacalah, telitilah, dan telaahlah. Ketika ada perintah tersebut maka dibutuhkan kemampuan kritisisme. Kritisisme adalah sebuah ikhtiar mempertanyakan segalanya dan berusaha menemukan jawabannya. Dimana jawaban yang kita dapatkan dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang kita sebut sebagai pengetahuan. Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca dan tidak membatasi bacaan tersebut selama kita menyebut nama-Nya yang artinya bacalah selama bacaan itu untuk kemaslahatan ciptaan-ciptaan Tuhan untuk kemaslahatan semesta. Pada titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan di dalam islam bukanlah sesuatu yang bebas nilai ia mesti berpihak kepada kesejahteraan makhluk. Pengetahuan tidak boleh bercokol di menara gading dan tidak berpihak kepada kemaslahatan umat. Pengetahuan mesti berbenam di lumpur, pengetahuan mesti menyatu dengan masyarakat sampai pada kesejahteraan. Jadi, teman-teman yang ingin meningkatkan kualitas intelektualnya, intelektualitas itu mesti mengarah pada kesejahteraan masyarakat, intelektualitas itu mesti berpihak pada nilai-nilai ilahiyah. Lalu, di dalam surah Al Alaq kata iqra diulang dua kali yaitu pada ayat pertama dan ketiga yang menandakan bahwa proses membaca tidak cukup hanya satu kali dibutuhkan upaya berkali-kali, bisa saja pada saat kita pertama kali membaca itu akan berbeda pada saat membaca dua kali. Pada ayat kedua mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia dari segumpal daging, apa itu segumpal daging? Yaitu sesuatu yang menempel pada dinding rahim. Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki watak sosial yang fitrawi. Daging itu dia tidak bisa berdiri sendiri, membutuhkan tulang membutuhkan kulit. Dari awal penciptaan manusia ia punya fitrah sosial punya watak sosial, karena dia punya watak sosial maka kebutuhan untuk berkelompok itu murni adanya. Sampai kapan pun manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. 

Berbicara gerakan mahasiswa dalam perspektif islam ada sangat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang bisa dijadikan rujukan. Salah satunya dalam Q.S. Taha 117-119 secara garis besar ayat ini berbicara tentang peringatan kepada adam dan hawa bahwa jangan pernah kamu tergoda dengan godaan iblis, karena di sini engkau tidak akan merasa kelaparan, tidak akan telanjang, dan tidak akan tertimpa panas matahari. Berbicara tentang kelaparan itu berbicara tentang pangan. Berbicara tentang kepanasan berbicara tentang rumah berbicara tentang papan. Berbicara tentang telanjang berbicara tentang pakaian berbicara tentang sandang. Terpenuhinya kebutuhan sandang, terpenuhinya kebutuhan pangan dan papan bagian dari cita-cita sosial islam. Ada yang mengatakan bahwa kehidupan Adam di surga merupakan bagian dari proses untuk mengenali kehidupan yang ideal yang mana itu kehidupan ideal ialah kehidupan terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Sehingga tugas Adam ketika diturunkan ke bumi adalah menghadirkan kehidupan ideal tersebut kehidupan yang mencerminkan bayang-bayang kehidupan surga. Dimana tidak ada lagi manusia yang merasakan kelaparan tidak ada lagi manusia yang tidak punya rumah dan pakaian. Walaupun kebutuhan itu sudah bertambah yaitu kebutuhan colokan dan jaringan, tanpa itu kita akan sulit menjalani kehidupan. 

Hal lain yang baik untuk kita refleksikan bersama yaitu Q.S. Al-Ashr Allah SWT berfirman demi masa, menurut tafsir al misbah dijelaskan bahwa Allah SWT bersumpah demi waktu, jadi ketika Allah bersumpah dalam satu ayat maka memerlukan perhatian. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud adalah ketika modal berkurang, apa modal yang kita miliki yaitu waktu. Seringkali manusia baru sadar bahwa waktunya terbuang percuma itu ketika waktu ashar. Hal ini sering kali terjadi di level mahasiswa, kita janjian rapat jam 8, jam 10 baru datang. Kita janjian konsolidasi jam 7, baru datang ketika jam 10. Konsolidasi dilakukan mulai jam 10 sampai jam 5 subuh kemudian besok pagi ingin melakukan aksi tidak bisa lagi kemudian kita punya tenaga. Lalu ingin berhadapan dengan polisi dan tentara yang jam tidurnya teratur, suplemennya teratur dibekali dengan senjata lalu kita ingin bentrok. Karena itu pengalaman saya ketika setiap kali kita ingin konsolidasi lalu ada waktu yang kita sepakati kita meleset dari waktu yang kita sepakati itu maka itu adalah awal dari kekalahan. Tidak akan ada kemenangan yang kita dapatkan ketika sejak awal sudah meleset ini kesepakatan-kesepakatan kita. Begitu pula lah yang terjadi pada perang uhud, ketika Rasulullah memerintahkan kepada umat muslim untuk tidak meninggalkan posisi, tidak tergoda untuk mengambil harta rampasan perang. 

Selamat menjalankan ibadah puasa


Penulis   : Agus Fadriansyah 

Penerbit : Ahmad Rafli Hamdani 

Belum ada Komentar untuk "Tabligh Akbar HIPERMAWA KOPERTI PNUP Periode 2024-2025"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel